40 Kata Bijak Nouman Ali Khan Inspiratif Mutiara Hikmah Islami. Kata Bijak Abu Bakar As-Siddiq Sahabat Nabi menentramkan jiwa. 101 Kata bijak Umar bin khattab Penuh Makna Memotivasi. Barangsiapa mengaku dapat menggabungkan dua cinta dalam hatinya, yaitu cinta dunia sekaligus cinta Allah, maka dia telah berdusta. Katakata hikmah. Jadilah seorang yang kakinya menapak di tanah dan semangatnya tinggi menjulang ke bintang.. Kebahagiaan itu diibaratkan seperti sebatang pohon yang rendang, tempat tumbuhnya adalah jiwa dan perasaan kemanusiaan, ketakwaan kepada Allah adalah merupakan air, udara dan cahaya yang membantu pertumbuhannya.. Lihatlah di sekeliling kamu dan teguhkan pendirianmu; sepanjang hidup dan KumpulanKata-kata Mutiara KH. Hasyim Asy'ari, Nasehat Ulama NU (Nahdlatul Ulama) Hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asy'ari (Kyai Haji Hasyim Asy'ari) adalah sosok ulama besar lahir dari sebuah keluarga dengan didikan dasar-dasar agama yang kuat (dilahirkan di Kabupaten Jombang, 14 Februari 1871 dan wafat di umur ke 76 tahun di Jombang, 21 Vay Nhanh Fast Money. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Tulisan ini merupakan dedikasi dan penghormatan untuk alm Imam Zarkasyi, ulama besar dan salah seorang Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor PMDG Ponorogo Jawa Timur. Semoga Allah senantiasa merahmati dan memberkahinya dengan Imam Zarkasyi, lahir di Desa Gontor Ponorogo Jawa Timur, pada 21 Maret 1910 dan wafat pada 30 April 1985 usia 75 tahun. Ayah dan ibunya berdarah ningrat Jawa Ulama. Leluhurnya adalah Kyai Ageng Mohammad Besari pendiri Pondok Tegalsari yang sangat masyhur di abad ke-18-19. Dalam dirinya pun mengalir darah Sultan Kasepuhan Cirebon dari nasab sang ayah. Namun kerendahan hati dan rasa tawadhu’, begitu tampak dalam pribadi dan kesehariannya. Ulama besar ini enggan memberi embel-embel “Raden”, “Ustad” atau “Kyai” pada namanya. Sebutannya sederhana saja, “Pak Zar”. Pakaian kebesarannya cukup sarung, jas dan peci hitam, tanpa jubah dan sorban yang melilit-lilit kepala. Bahkan seringkali berkaos oblong, berbekal paku dan palu, Pak Zar berkeliling memperbaiki sendiri barang-barang Pondok yang rusak, tanpa bantuan tukang. Bagi Pak Zar, sederhana bukan berarti miskin. Sebait kata-kata ini akan selalu dikenang para santri dan alumninya “Jika santri-santriku melihat bahwa apa yang kami makan, kami pakai, dan kami tempati lebih enak daripada yang santri-santriku rasakan, silakan protes!”. Adakah kita saksikan pada para pemimpin kita hari ini?... Pesantren Gontor adalah tempat untuk menyemai, memupuk serta menanam rasa keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah, dan kebebasan. Menurut Pak Zar, sebuah institusi pendidikan yang baik dan konsisten, pasti akan menghasilkan sesuatu yang baik dan konsisten pula dan itu harus dimulai dari niat yang lurus. Inilah doa beliau saat pertama kali mendirikan Pondok Modern Gontor “Ya Allah, kalau sekiranya perguruan yang saya pimpin ini tak akan memberikan faedah-faedah kepada masyarakat, lenyapkanlah ia segera dari pandangan saya”.Niat dan doa kyai yang ikhlas ini, ternyata langsung dijawab kebaikan oleh Allah. Pondok Modern Darussalam Gontor, bukannya lenyap dari muka bumi, tapi justru hidup hingga kini. Gontor bukan hanya hidup sendiri, ia bahkan mampu melahirkan "anak-anaknya" di seantero nusantara bahkan sampai ke mancanegara. Ratusan pesantren cabang dan alumni Gontor dapat kita saksikan sekarang, tentu dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Pak Zar, apalah artinya sebuah iklan, brosur, dan spanduk promosi yang bombastis, bahwa sekolahnya atau pesantrennya unggul dalam A, B, C, tapi pada kenyataannya jauh dari yang diiklankan. Baginya mudah saja, siapa yang percaya dan taat kepada Pondok, silakan datang dan belajar di Gontor. Tapi siapa yang tidak percaya dan tidak taat, silakan pergi. Gontor membuktikan konsistensinya itu saat “mengusir” orang santri pada “peristiwa hitam” 19 Maret 1967 Persemar dan hanya 400an santri yang dipanggil kembali untuk belajar. Apa kata pak Zar? “Sekalipun tinggal seorang murid, Gontor akan saya teruskan. Kalaupun tidak ada yang mau belajar, saya akan mengajar manusia dengan pena”. Setiap kali akan menandatangani surat pengusiran seorang santri, air mata Pak Zar menetes, teringat anak itu dan orang tuanya, dengan lirih beliau berkata “Anak itu harus saya usir, mudah-mudahan dia menjadi lebih baik, setelah keluar dari Gontor”.Sejak program KMI Gontor dibentuk di tahun 1936, Pak Zar dengan penuh kasih sayang mendidik langsung para santri, siang dan malam. Baginya, pendidikan lebih utama dari pengajaran. Sejak didirikan sampai sekarang, Gontor merumuskan kurikulumnya sendiri, mandiri, dan yang pasti tidak gonta-ganti. Tak ada campur tangan dari para menteri yang silih datang berganti dengan kurikulumnya sendiri-sendiri. Tak pernah ada kata intervensi, sekalipun sang menteri adalah alumni Gontor tak pernah mengenal UN Ujian Nasional! Ujian untuk para santrinya selalu dilaksanakan dalam bentuk ujian lisan dan essai, tak pernah ada soal pilihan ganda di kamus Gontor. Kata pak Zar, “Ujian itu untuk belajar, bukan belajar untuk ujian”. Sekali-kali, berkunjunglah ke Gontor saat ujian semester berlangsung. Lihatlah aura belajar dan suasana ujian yang sangat menakjubkan!.Puluhan tahun ijazah Gontor tak diakui di dalam negeri, lulusannya ditolak sana-sini saat akan mendaftar Perguruan Tinggi Negeri. Namun anehnya, sejak dulu berbagai pemerintah luar negeri memberi apresiasi pada alumni Gontor. Mesir 1957 Arab Saudi 1967 dan Pakistan 1991 mengakui ijazah alumni Gontor sejak lama. Bagaimana dengan pemerintah Indonesia? Negeri ini baru mengakui ijazah Gontor di tahun 2000, setelah 75 tahun!. “Kamu jangan minder, takut, atau kecil hati. Sampaikan dengan jujur dan ikhlas, orang pun akan menerima dengan baik”. Begitu nasehat Pak Santri Gontor, Kini Profesor Doktor 1 2 Lihat Humaniora Selengkapnya Kh. Hasan Abdullah Sahal Beliau adalah pimpinan pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, seseorang yang banyak memberikan berbagai teladan, inspirasi dan motivasi kepada santri-santrinya. Beliau adalah putera keenam dari Kh. Ahmad Sahal. Banyak kata-kata mutiara yang beliau psampaikan untuk membangkitkan jiwa semangat, perjuangan, dan keikhlasan para pemuda, selain itu pula banyak nilai dan filsafat yang beliau sampaikan tentang pengajaran dan pendidikan yang dapat kita amalkan. Menjadi baik jangan menunggu, mengajak atau diajak, pahala terbuka untuk semua disetiap waktu dan tempat. Jadilah kau terbaik, berbuat terbaik dan akhirnya mendapatkan hasil yang terbaik. Kh. Hasan Abdullah Sahal Manusia itu punya DIRI, punya JATI DIRI, dengan jati diri ia MEMBINA DIRI, karena membina diri ia jadi punya HARGA DIRI, sadar punya harga diri seharusnya ia TAHU DIRI, tapi terkadang ia tak tahu diri, lalu buru-buru UNJUK DIRI, kecewa ternyata unjuk diri membuatnya LUPA DIRI, dan tidak sedikit yang akhirnya BUNUH DIRI. Kh. Hasan Abdullah Sahal Kalau kamu tidak lebih baik daripada saya, lebih baik kamu tidak usah lahir, dan saya tidak usah mati. Hanya nambah jatah beras saja. Kh. Hasan Abdullah Sahal Banyak orang yang berpikir bagaimana mencari hidup yang baik, tapi mereka lupa bagaimana mencari mati yang baik. Kh. Hasan Abdullah Sahal Lebih baik kita merangkak tapi jalan kedepan, daripada kita berlari tapi diam ditempat. Kh. Hasan Abdullah Sahal Kita harus berani menyatakan kebenaran, bukan membenarkan kenyataan. Kh. Hasan Abdullah Sahal Anak-anakku! berhati-hatilah! Waspadalah! Orang yang tidak punya harta, akan mencari harta. Orang yang tidak punya muka akan mencari muka. Kalau kekuasaanmu berpotensi untuk membuatmu berbuat dzholim, ingatlah! kekuasaan dan kemampuan Allah. KuasaNya melebihi segala yang kamu kuasai. Kh. Hasan Abdullah Sahal Lebih baik kamu menangis karena berpisah sementara dengan anakmu yang menuntut ilmu agama, daripada kalau kamu sudah tua nanti menangis karena anak-anak kamu lalai dalam urusan akhirat. Kh. Hasan Abdullah Sahal Ketika melihat murid-murid menjengkelkan dan melelahkan, maka hadirkanlah gambaran bahwa diantara satu dari tangan mereka, kelak akan menarik tangan kita menuju surga. Selamat berjuang, wahai guru! Kh. Hasan Abdullah SahalLebih baik kita memiliki pekerjaan yang banyak sampai ada yang tidak dapat kita kerjakan, daripada kita tidak memiliki pekerjaan sehingga mencari-cari pekerjaan. Kh. Hasan Abdullah Sahal Anak-anak yang baru masuk Gontor banyak yang masih kecil fisiknya tetapi Insya Allah besar jiwanya, tinggi semangatnya, kuat niatnya, suci hatinya, luhur cita-citanya, tidak kalah dengan yang besar-besar fisiknya. Kh. Hasan Abdullah SahalBergerak tepat waktu, diam tepat waktu. Mulai pada waktunya, selesai pada waktunya. Kh. Hasan Abdullah SahalSeharusnya pemimpin itu mau dan mampu menyelesaikan masalah, bukan pintar mengajar dan mengoreksi seperti pengajar disekolah. Kh. Hasan Abdullah SahalYang jauh itu WAKTU, yang dekat itu KEMATIAN, yang besar itu NAFSU, yang berat itu MEMIKUL AMANAT, yang mudah itu BERBUAT DOSA, yang panjang itu AMAL SHOLEH adapun yang indah itu SALING MEMAAFKAN. Kh. Hasan Abdullah SahalBanyak orang bertitle tetapi tidak berkualitas, dan banyak orang berkualitas walaupun tidak bertitle. Maka, jadilah orang yang bertitle dan berkualitas. Kh. Hasan Abdullah SahalMemberikan sedeqah disaat lapang itu biasa, tapi memberikan sedeqah saat sulit itu bagus, dan mulia. Maka keterbatasan diri tidak boleh membuat orang tidak berbuat kebaikan. Kh. Hasan Abdullah SahalAlhamdulillah, dengan beberapa motivasi beliau kita dapat menambah semangat perjuangan dijalan Allah SWT, silahkan dicomment bagi teman-teman Alumni Gontor atau siapapun yang masih menyimpan kata-kata mutiara beliau, dan share apabila bermanfaat dalam pengabdian umat. Jazakallahu Khairan AKBAR ZAINUDIN, Presiden Forum Jiilut Tis’iinat FJT, Alumni Gontor 1990-an Yahanu, satu kata berjuta makna, terutama bagi santri dan alumni Pondok Modern Gontor. Begitu terkenal dan melekatnya kata-kata ini, sampai-sampai banyak alumni Gontor kalau ditanya tips sukses mereka, salah satunya adalah faktor “yahanu”. Karena itulah, Forum Jiilut Tis’iinaat FJT, sebuah forum yang beranggotakan alumni Gontor tahun 1990-an ada 11 angkatan, dari 1990 sampai dengan 1999 akhir, mengadakan webinar pada Jumat 13/03/2021 dengan tema “The Power of Yahanu”. Kata Yahanu memang seakan-akan berasal dari Bahasa Arab. Namun kalau dicari di negeri Arab manapun, kelihatannya tidak akan ditemukan kata ini. Hanya ada di Gontor. Kata ini, menurut Dr Nur Hizbullah, salah satu pakar Bahasa Arab, memang Bahasa “slank”, bahasa gaul anak-anak remaja yang sedang nyantri, semacam “kreativitas” dari para santri, selain menggunakan bahasa resmi yang fasih sesuai kaidah. Menurut ustaz Maritho Lidinillah, salah seorang senior alumni Gontor, kata Yahanu itu tidak berdiri sendiri. Banyak santri tahun 1970-an sudah mengenal kata-kata ini, dan juga kata-kata lain yang merupakan “plesetan” atau bukan bahasa resmi di pondok. Karena itulah, KH Imam Zarkasyi, pimpinan pondok saat itu sering “menegur” para santri yang menggunakan “bahasa plesetan” ini agar menggunakan bahasa Arab yang lebih sesuai kaidah. Menurut Dr Adib Fuadi Nuriz MA MPhil yang baru diberikan amanah sebagai ketua umum Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Pondok Modern Gontor PP IKPM, kata Yahanu adalah bahasa bersama, kearifan lokal alumni Gontor yang ternyata memang menjadi “kekuatan” tersendiri bagi alumninya. Alumni Gontor diharapkan bisa memperkuat, mempertahankan, dan memajukan peradaban dengan nilai-nilai Gontor yang bisa mewarnai berbagai lini. Sangat menarik, ternyata Yahanu ini bukan hanya sekadar kata, tetapi sudah menjadi konsep filsafat hidup bagi banyak alumni Gontor. Melalui penelitian doktoralnya, Dr c. Saiful Amin MPd menemukan bahwa konsep “yahanu” mempunyai setidaknya empat dimensi, yaitu 1 kepercayaan diri yang dipicu oleh self esteem, 2 keberanian mencoba hal yang baru, 3 kesungguhan, kegigihan dan kerja keras, serta 4 keyakinan dan kemantapan diri untuk bertindak meraih tujuan. Dengan “yahanu”, alumni Gontor mempunyai kepercayaan diri yang penuh. Percaya diri yang tinggi membuat para alumni mampu berkiprah dalam berbagai bidang. Ditambah keberanian melangkah, faktor yahanu menjadi salah satu pendorong penting bagi kesuksesan seseorang. Tentu tidak berhenti di situ, ada kesungguhan, kerja keras serta kemantapan diri untuk istiqamah bertindak meraih tujuan. Dengan demikian, kata Yahanu menjadi konsep filsafat hidup yang membawa seseorang pada tingkatan kesuksesan lebih tinggi. Bagaimana konsep Yahanu ini dipraktikkan? Menurut Dr hc An Ubaedy, implementasi yahanu secara praktis bisa terbagi dua; yahanu yang “mardud” dan yahanu yang “mumtaaz”. Yahanu yang mardud adalah yahanu dalam konotasi negatif dan yahanu yang mumtaaz adalah yahanu dalam konteks positif. Yahanu yang “mardud”, tertolak adalah yahanu pada sebatas perasaan, feeling, insting, bahwa dia bisa. Kalau ditanya bisa atau tidak, dijawab dengan penuh keyakinan diri bahwa dia bisa. Padahal, hal itu hanya perasaaannya saja. Akhirnya hanya akan menjadi GR gede rumongso yang akhirnya malah menghancurkan. Sebaliknya, yahanu yang positif adalah yahanu yang diwujudkan dalam aktualisasi diri, membangun peran dan mengukir prestasi. Yahanu bermula dari merasa, lalu diwujudkan dalam berbagai kerja dan karya yang bermanfaat. Itulah yahanu yang mumtaaz. Dalam praktik ada yahanu mardud perasaan, feeling, insting bisa ada juga yahanu mumtaz yahanu yang berasal dari feeling pada aktualisasi diri, prestasi, dsb. Yahanu mumtaz ini pijakannya bisa ditemukan dari para pimpinan, dari Kiai Syukri, Kiai Hasan dan kiai lainnya yang bahasanya dibumikan pesannya kepada para santri. Yahanu menjadi penting sebagai modal dalam konteks yahanu mumtaz. Yahanu bisa membuat alumni Gontor berganti identitas dalam aktualisasi diri. Mahfudzot jarrib wa laahidz ini menjadi konsep awal yahanu mumtaz. Innaa fii maziyyatika aibak pesan dari Kiai Hasan Abdullah Sahal. Yahanu mardud harus ditekan sebagai kontemplasi untuk meningkatkan yahanu mumtaz sampai pada level nasional, bahkan internasional. Sementara itu, motivator Dr DH Ismail Al-Faruqi mengatakan, yahanu adalah bentuk afirmasi diri seseorang. Keyakinan bahwa dia mampu melakukan apa yang dilakukan dengan sebaik-baiknya. Gontor mendidik para santri, menginstall dengan nilai-nilai keberanian dan keyakinan melalui berbagai kegiatan, kompetisi, dan pendidikan berasrama ala Pondok. Hal itulah yang membuat alumni Gontor banyak meraih kesuksesan. Namun demikian, Prof M Din Syamsuddin PhD, anggota Badan Wakaf Pondok Modern Gontor mengingatkan, bahwa ada “yahanu” pada saat santri, dan ada pula “yahanu” pada saat menjadi alumni. Pada saat santri, “yahanu” ini penting sekali untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan keberanian melakukan sesuatu. Namun lebih banyak bersifat artifisial. Ketika selesai dari Gontor, menjadi alumni dan sudah terjun ke masyarakat, ada satu titik di mana tidak hanya berhenti pada “yahanu” saja, tetapi harus mengembangkan diri secara profesional sesuai bidangnya masing-masing. Dalam bahasa beliau, Yahanu is a process of becoming, not state of being. Adalah proses yang terus berkembang, bukan berhenti. Anak Gontor dididik dalam lingkungan yang terus berkembang, bukan menjadi insan yang berhenti, itulah the power of Yahanu. Karena itulah, bagi penulis sendiri, yahanu itu adalah proses awal. Ada keberanian dan keyakinan diri yang besar untuk memulai sesuatu. Namun demikian, tidak cukup hanya sampai di situ. Harus diikuti dengan upaya meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri kalau ingin bersaing pada tingkat profesional. Kalau tidak, alumni Gontor hanya akan berkutat pada “yahanu” memiliki kepercayaan diri yang kuat, namun tidak akan bisa berbuat banyak karena kurangnya kompetensi untuk berkiprah di masyarakat.

kata kata hikmah kyai gontor