AyatHafalan - Ayo Renungkan Mulutmu Harimaumu adalah sebuah peribahasa Indonesia yang cukup terkenal. Peribahasa ini memiliki arti bahwa segala perkataan yang diucapkan apabila tidak dipikirkan dahulu dapat merugikan diri sendiri. Maka itu kita harus berpikir dahulu sebelum berkata-kata. Fast Money. Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Karena Kitab Suci berkata ”Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. DULU ada peribahasa 'mulutmu harimaumu'. Namun, di era digital seperti sekarang ini, peribahasa tersebut mungkin bermetamorfosa menjadi 'jarimu harimaumu'. Peribahasa ini ada benarnya mengingat banyak masyarakat yang terjerat masalah hukum karena cuitan yang tidak mengedepankan etika bersosial media. Media sebagai sarana untuk mengekspresikan uneg-uneg pengunanya, rambu-rambu kode etik acap kali diterobos sehingga apa yang dipublikasikan menjadi bumerang. Etika menjadi sebuah keniscayaan bagi pengguna media, terutama dalam mengekspresikan kegundahan. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang harus dipahami sebelum kita memublikasikan ide dan curahan hati kepada publik. Pertama, memahami terlebih dahulu apa yang akan dipublikasikan. Pemahaman ini tentunya meliputi kata-kata yang dipilih apakah dapat menyinggung orang lain atau menyangkut suku, agama, ras dan antargolongan SARA. Kedua, menggunakan kalimat yang santun, sopan dan elegan, serta tidak menyinggung orang lain. Kalimat yang santun akan memudahkan kita dalam menjalin interaksi dan pertemanan di media sosial. Sebaliknya, kalimat yang kasar dan tidak sopan hanya akan melahirkan kecemburuan dan kebencian dari orang lain. Ketiga, memahami situasi dan kondisi di mana kita tinggal. Lingkungan yang kita tinggal pastinya akan berbeda dengan lingkungan di mana kita dilahirkan. Budaya yang ada di daerah masing-masing memiliki perbedaan yang cukup mencolok, sehingga tidak jarang budaya dan kebiasaan di tempat asal tidak sesuai dengan lingkungan kita tinggal domisili. Dengan demikian adaptasi sangat diperlukan, baik dalam kehidupan maya dan kehidupan nyata. Aminuddin Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

ayat alkitab tentang mulutmu harimaumu